Minggu, 17 April 2011

kampus dan difable


Strategi Mewujudkan Kampus yang Ramah dan Non-Diskriminatif bagi Penyandang Disabilitas

"Yang saya bisa adalah saya tidak bisa apa-apa" KH. Irfan Hielmy

Kata itulah yag selalu membayangi alam pikiranku sebagai manusia yang lemah. Pada dasarnya, semua berasal dari lemah menuai proses menjadi kuat kemudian kembali lemah lagi. Ini merupakan hakikat hidup semua makhluk yang bernyawa. Tidak yang didapat secara langsung tanpa ada proses untuk mencapai hal tersebut. Motivasi yang tinggi serta doa yang dapa menggapi semua itu menjadi kenyataan.
Kampus lazim dikenal sebagai tempat belajar mengajar pada perguruan tinggi. Setelah menempu proses belajar pada tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA) dilanjutkan dengan perguruan tinggi. Semua tempat belajar hendaknya mampu menjadikan semua peserta belajar menjadi terpelajar, tanpa memandang perbedaan kemampuan dan ketidakmampuan siswanya. Tidak boleh ada perilaku diskriminatif dalam proses belajar dimanapun tempat belajarnya. Tulisan ini, akan mencoba mencari alternatif dalam menyamakan orang-orang yang ingin belajar tanpa memandang perbedaan yang butuh perhatian khusus dan yang tidak membutuhkannya. Kemudian mencari desain baru dalam menjadikan kampus yang ramah dan bersahabat bagi semua.
Bandi Delphie mengatakan bahwa dalam pembelajaran untuk anak yang berkebutuhan khusus (student with special needs) membutuhkan suatu pola tersendiri sesuai dengan kebutuhannya masing-masing, yang berbeda satu dan lainnya. Oleh karena itu, setiap pendidik atau dosen hendaknya mengenal karakteristik setiap mahasiwanya sehingga dapat menerapkan metode pembelajaran yang baik di kampus. Di Universitas Islam Negeri (UIN) syarif Hidayatullah misalnya, di fakultas Psikologi terdapat salah seorang mahasiswa yang mengenakan kursi roda ke kampus. Dalam proses kuliahnyapun bisa dibilang berjalan layaknya mahasiswa pada umumnya dikarenakan dalam belajarnya, para dosen psikologi mampu mengenal dan dapat menerapkan pembelajaran kepada mahasiswanya.
Perguruan tinggi hendaknya menjadi agen perubahan dalam menyikapi disabilitas. Disabilitas tidak berarti selalu tidak mampu dalam melakukan hal yang sama dengan orang yang normal, tetapi disabilitas memerlukan proses untuk menjadi seperti orang yang normal. Kalau penulis mengutip pembukaan dari rubrik inspirasi dalam harian Kompas (12/6/2010), menjadi difabel atau different ability bukan berarti tak berdaya. Masalahnya, banyak orang yang yang tidak tahu cara menghadapi difabel sehingga justru membuat mereka tak mandiri atau malah merasa didiskriminasi. Kalau diihat secara seksama, disabilitas sebenarnya dapat bekerja normal tapi membutuhkan proses yang berbeda dengan orang yang normal.
Dalam prestasi, sudah banyak bukti para disabilitas juga mampu berbangga diri, karena memiliki sejumlah prestasi baik dalam maupun luar negeri. Para disabilitas juga berhasil meyakinkan semua orang bahwa antar disabilitas dan orang yang normal tidak perbedaan. Rahma dan Yunara misalnya yang merupakan mantan atlet nasional penyandang cacat. Keduanya telah mampu memberikan yang terbaik untuk negeri Indonesia. Dalam Kompas (17 Mei 2010) menceritakan bahwa Rahma adalah mantan atlet lompat jauh, sedangkan Yunara suami Rahma adalah mantan atlet lari 100 meter. Tidak disangka, ternyata  sudah 12 medali yang mereka peroleh selama menjadi wakil Indonesia.
Dalam dunia usahapun, para difabel tidak ketinggalan. Seperti yang dilakukan Ibu Titik Winarti pendiri Tiara Handicraft yang mengajarkan difabel sejak tahun 1999. Pada tahun 1999 sebanyak 470 difabel yang dilatih untuk memiliki keterampilan dan kemampuan pemasaran. Keterampilan itu, diharapkan mampu dikembangkan di kampung asalnya masing-masing yang berasal dari seluruh nusantara. Sebenarnya yang diharapkan Ibu Titik adalah, bagaimana orang-orang disabilitas menjadi mandiri dan tidak terpinggirkan. Setelah itu, mereka mampu bersaing di aneka pasar kerja tanpa adanya perbedaan.
Berita mengembirakan untuk para disabilitas, di Jawa Timur ada sebuah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak dalam bidang advokasi penyandang cacat atas haknya dengan nama D'care atau diffable (differentability). D'care bersama aktivis penyandang cacat terus memperhatikan berbagai aspek kehidupan. Ketika Pemprov dan DPRD Jatim misalnya menggodok Rancangan Peraturan Daerah tentang Pelayanan Publik, para aktivis ini tak ketinggalan. Satu pasal yang menyebutkan semua pelayanan public harus menyediakan fasilitas yang bias diakses penyandang cacat, manusia lanjut usia (manula), dan perempuan hamil berhasil dimasukkan pada Perda Jatim Nomor 11 tahun 2005. Menurut Ibu Wuri, diskriminasi terhadap difabel dan kaum marjinal lainnya masih banyak terjadi. Tahun 2009 misalnya, siswa tunanetra ditolak masuk madrasah aliyah di Sidoarjo. Alasannya, tak ada guru sekolah luar biasa ataupun materi berhuruf braille. Ironis memang, ketika para difabel ada keinginan untuk sekolah, malah sekolah yang menolaknya. Inilah kenyataannya, masih kurangnya pemahaman mengenai kapasitas, hak, dan kebutuhan difabel, tak jarang menimbulkan diskriminasi. Ibu Wuri pun harus ke sejumlah daerah untuk mendampingi difabel lainnya untuk diperjuangkan haknya. Perjalanan untuk menghilangkan diskriminasi ini masih panjang, butuh gerakan-gerakan seperti Ibu Wuri selanjutnya.    
Kata mutiara intelektual muslim terdahulu mengungkapkan, batu yang keraspun dapat menjadi lubang oleh tetesan air yang terus menetes. Begitupun untuk para difabel, mereka memiliki hasrat untuk menjadi orang yang normal dan mandiri. Tanggung jawab perguruan tinggi, karena belum ada perguruan tinggi untuk orang-orang disabilitas adalah, mempersiapkan para difabel untuk lebih maju, semangat, dan dapat diterima dalam pasar kerja.
Untuk solusi perguruan tinggi yang nyaman dan tidak ada diskriminatif untuk para disabilitas. Penulis menyarankan:
1.      perlunya pembuatan infrastruktur yang mendukung fasilitas. Untuk para difabel misalnya, ada sarana jalan khusus, trotoar tidak terlalu tinggi, toilet khusus, serta tangga untuk pengguna kursi roda seperti kampus-kampus yang ada di Malaysia. Kalau di Indonesia, baru Universitas Indonesia yang mempunyai tangga untuk penyandang cacat.
2.      melatih semua civitas akademika baik yang normal maupun luar biasa untuk dapat menghasilkan karya yang terbaik untuk diri sendiri, kampus, dan Indonesia.
3.      perlu diadakan event-event yang adil untuk semua. Lomba-lomba, penampilan seni, serta bakti sosial yang melibatkan semuanya, baik abilitas maupun disabilitas.
4.      memberikan semua orang pemahaman, bahwa orang diabilitas juga mau dianggap eksistensinya di perguruan tinggi. Mereka juga mampu menjadi seperti orang normal pada umumnya, tapi memerlukan proses yang berbeda dengan orang lain pada umumnya.
Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Disabilitas bukan hanya sekedar wacana di kampus, perguruan tinggi, lingkungan masyarakat. Tetapi disabilitas perlu mendapat perhatian dari semua orang yang ingin melihat para diabilitas juga tersenyum layaknya orang lain yang normal. Semoga. 
























  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar